Tampilkan postingan dengan label Hematologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hematologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 November 2013

Tujuh Contoh Penyebab Trombosit Turun

Penyebab Penurunan Darah Putih Trombosit. Jika untuk alasan apapun jumlah trombosit darah turun di bawah normal, kondisi ini disebut trombositopenia. Biasanya, Anda memiliki antara 150.000 sampai 450.000 trombosit per mikroliter darah beredar. Karena setiap trombosit hanya hidup sekitar 10 hari, tubuh Anda terus-menerus memperbaharui pasokan trombosit Anda dengan memproduksi trombosit baru dalam sumsum tulang Anda.
Trombositopenia memiliki banyak kemungkinan penyebab.

Trombosit terjebak di limpa

Limpa adalah organ kecil seukuran kepalan tangan Anda berada tepat di bawah tulang rusuk di sisi kiri perut Anda. Biasanya, limpa Anda bekerja untuk melawan infeksi dan bahan yang tidak diinginkan filter dari darah Anda. Pembesaran limpa – yang dapat disebabkan oleh sejumlah gangguan – dapat menyokong terlalu banyak trombosit, menyebabkan penurunan jumlah trombosit dalam sirkulasi.

Pengurangan produksi trombosit

Trombosit diproduksi di sumsum tulang. Sebuah penyakit atau kondisi yang melibatkan sumsum tulang Anda, seperti leukemia dan beberapa jenis anemia, dapat menyebabkan penurunan jumlah trombosit baru yang diproduksi. Infeksi virus, termasuk infeksi HIV, dapat mengurangi kemampuan sumsum tulang untuk membuat trombosit. Bahan kimia beracun, obat kemoterapi dan konsumsi alkohol berat juga dapat mengurangi produksi trombosit.

Peningkatan kerusakan trombosit

Sejumlah kondisi dapat menyebabkan tubuh Anda untuk menggunakan naik atau menghancurkan trombosit lebih cepat dibandingkan dengan produksi mereka, menyebabkan kekurangan trombosit dalam aliran darah Anda. Contoh termasuk:
  1. Kehamilan. Bersama dengan hamil dapat menyebabkan trombositopenia ringan.
  2. Idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP). Pada ITP, sistem kekebalan tubuh Anda keliru mengidentifikasi trombosit sebagai ancaman dan membentuk antibodi yang menyerang mereka.
  3. Penyakit autoimun. Penyakit lain di mana sistem kekebalan tubuh Anda menyerang jaringan sehat dapat menyebabkan trombositopenia. Contohnya termasuk lupus dan rheumatoid arthritis.
  4. Bakteri dalam darah. Infeksi bakteri parah yang melibatkan darah (bakteremia) dapat menyebabkan kerusakan trombosit.
  5. Thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP). TTP adalah suatu kondisi langka yang terjadi ketika gumpalan darah kecil tiba-tiba terbentuk di seluruh tubuh Anda, dengan menggunakan sejumlah besar trombosit.
  6. Sindrom uremik hemolitik. Gangguan ini jarang menyebabkan penurunan tajam dalam trombosit, penghancuran sel darah merah dan gangguan fungsi ginjal. Kadang-kadang dapat terjadi dalam kaitannya dengan infeksi bakteri Escherichia coli (E. coli), seperti dapat diperoleh dari makan daging mentah atau setengah matang.
  7. Obat-obatan. Obat-obat tertentu dapat mengurangi jumlah trombosit dalam darah Anda dengan membingungkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan ia menghancurkan trombosit. Contohnya termasuk heparin, quinidine, kina, antibiotik sulfa yang mengandung interferon, antikonvulsan dan garam emas.

Rabu, 11 September 2013

Limfosit Plasma Biru pada Infeksi Dengue


Perubahan imunologik pada infeksi dengue terdiri atas perubahan imunologik humoral dan selular. Perubahan humoral dapat dibuktikan dengan terbentuknya antibodi IgG dan IgM yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan serologis. Beberapa peneliti menilai perubahan respons imun selular dengan ditemukan limfosit atipik yang khas untuk infeksi dengue, yaitu limfosit plasma biru (LPB) yang bermanfaat sebagai alat bantu diagnosis dini dengan sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi.
Infeksi virus dengue menyebabkan aktivasi sistem imun. Gangguan respons imun seperti inversi rasio CD4/CD8 tidak hanya mengganggu kemampuan sistem imun untuk membersihkan virus, tetapi juga menyebabkan produksi sitokin berlebih yang akan mempengaruhi limfosit T untuk berdiferensiasi menjadi limfosit atipik khususnya LPB.
Pemeriksaan LPB merupakan pemeriksaan yang sederhana, murah, dan dapat dilakukan di Puskesmas. Pemeriksaan tersebut dapat membantu menegakkan diagnosis terutama di daerah dengan fasilitas laboratorium yang sederhana. Cara pengecatan sediaan darah tepi berdasar WHO-DANIDA (1985) adalah dengan Giemsa. Jumlah LPB dihitung per 100 leukosit. Limfosit plasma biru adalah limfosit dengan sitoplasma biru tua dan berukuran lebih besar. Sitoplasma lebar dengan vakuolisasi halus sampai sangat nyata, dan dijumpai daerah perinuklear yang jernih. Inti terletak pada salah satu tepi sel, berbentuk bulat oval atau berbentuk ginjal. Kromatin inti kasar dan kadangkadang di dalam inti terdapat nukleoli. Pada sitoplasma tidak ada granula azurofilik. Daerah yang berdekatan dengan eritrosit tidak melekuk dan tidak bertambah biru.
Jika nilai limfosit plasma biru seseorang mencapai ≥ 4%, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut terinfeksi virus dengue. Jumlah rata-rata LPB pada pasien demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue (DBD) mengalami puncak pada hari keenam sakit. Pasien sindrom syok dengue (SSD) mempunyai jumlah LPB tertinggi  pada saat syok. Jumlah LPB untuk setiap tipe klinis memiliki perbedaan yang bermakna dan jumlah LPB semakin tinggi sesuai dengan beratnya spektrum klinis. Semakin berat respons imun yang terjadi maka semakin berat pula spektrum klinis yang dialami. Secara teoritis respons imunologi terhadap limfosit terjadi lebih besar pada DBD dibanding dengan DD. Hal lain yang dapat menjelaskan mengapa jumlah LPB  pada SSD jauh lebih tinggi daripada DBD karena pada SSD monosit yang terinfeksi virus lebih banyak yang mengakibatkan sel limfosit berdiferensiasi berubah menjadi limfosit atipik yang khas (LPB) menjadi lebih banyak.
Jumlah LPB pasien DD pada saat kedatangan dapat menjadi prediktor tingkat keparahan penyakit karena pada pasien yang akhirnya mengalami DBD secara signifikan memiliki jumlah LPB saat kedatangan lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang tetap mengalami DD. Apabila  pasien DD saat kedatangan mempunyai jumlah LPB  6 per 100 leukosit maka pasien tersebut memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami perubahan menjadi DBD dibanding pasien DD yang memiliki LPB lebih rendah.
Bagi para klinisi pemeriksaan LPB pada anak yang mengalami infeksi dengue sebaiknya dilakukan pada semua spektrum klinis, yaitu pada saat pasien datang dan dilakukan secara periodik pada hari ke-5, ke-6, dan ke-7 sakit sehingga dapat dicegah terjadinya gejala klinis yang fatal, khususnya syok. Bila ditemukan jumlah LPB pasien DD pada saat kedatangan 6 per 100 leukosit, hendaknya dilakukan pemantauan yang lebih ketat dan tindakan lebih agresif karena risiko untuk mengalami perubahan menjadi DBD lebih tinggi.